Jumat, 30 September 2016

Sudahkah Kau Pahami Pedoman Hidupmu?


Seperti yang sudah kita baca pada tulisan sebelumnya bahwa saat ini kita sedang singgah sementara di dunia. Pada hakikatnya tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Keberadaan kita sekarang di bumi tidak lain adalah untuk mencari bekal sebanyak banyaknya untuk menunjang keberlangsungan hidup kita di akhirat kelak. Pilihan itu kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita ingin menghabiskan waktu hidup kita di dunia hanya untuk mencari kesenangan dunia semata ataukah untuk mengisi gudang maupun inventory amal kita. Untuk kita yang setiap hari selalu berusaha taat kepadaNya, mungkin saat ini ada yang belum bisa merasakan manfaatnya secara langsung dari amal ibadah kita yang terus kita lakukan secara continue. Namun, manfaat itu akan dapat kita rasakan setelah kita menyelesaikan proses kehidupan di dunia ini.
Kita semua telah mengetahui dan memahami bahwa semua manusia yang ada di dunia adalah sama di mata Sang Maha Pencipta. Yang membedakan hanyalah tingkat keimanan dan ketaqwaan kpd-Nya. Agar bisa melalui proses kehidupan ini dengan sempurna, manusia sudah diberi pedoman hidup oleh Sang Maha Pencipta. Tepat sekali, pedoman itu adalah Al Qur’an. Kitab yang akan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi, kita sebagai manusia, apakah sudah melaui proses kehidupan ini dengan benar? Berdasarkan spesifikasi kehidupan yang ideal, yang sudah tertulis di dalam Al Qur’an? Sudahkah kita memahami dengan baik dan berjalan sesuai dengan arahan yang ada pada pedoman hidup kita?
Penulis sendiri pun tidak yakin sudah melalui proses kehidupan hingga detik ini sesuai dengan pedoman hidup yang telah Allah SWT berikan. Kita akui bahwa kita lebih senang untuk membaca novel, membaca akun media social kita, membaca informasi atau berita yang ada di internet, membaca jurnal-jurnal ilmiah, atau mungkin temen-temen lebih suka membaca buku-buku kuliah yang tebalnya hingga 10 cm sampai kening temen-temen berkerut. Lalu, dimana Al Qur’an kita letakkan? Tidakkah hati kita merasa gelisah jika kita gagal melalui proses kehidupan yang pendek ini?
Mempelajari Al Qur’an seharusnya dijadikan prioritas yang paling utama. Namun, globalisasi dan modernisasi telah mengalihkan mata hati kita untuk mengikuti persaingan hidup yang semakin ketat dan seolah-olah tidak punya waktu lagi untuk mempelajari Al-Qur’an.
Dikatakan dalam sebuah nasehat:
Barangsiapa yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.
Barangsiapa yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.
Dan barangsiapa tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.
Saat ini wahai kaum muslimin, kita masih mempunyai peluang dan kesempatan, maka sekarang juga kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taat kepada rabb kita, untuk melalui proses kehidupan ini berdasar pedoman hidup yang telah Allah SWT berikan. Waktu ini bagaikan pedang, jika kita tidak mengisinya maka ia akan menikam kita.
“Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.” (Q.S Al-A’raaf: 34)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar