Seperti yang sudah kita baca pada tulisan sebelumnya bahwa
saat ini kita sedang singgah sementara di dunia. Pada hakikatnya tujuan manusia
diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Keberadaan
kita sekarang di bumi tidak lain adalah untuk mencari bekal sebanyak banyaknya
untuk menunjang keberlangsungan hidup kita di akhirat kelak. Pilihan itu
kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita ingin menghabiskan waktu
hidup kita di dunia hanya untuk mencari kesenangan dunia semata ataukah untuk
mengisi gudang maupun inventory amal kita. Untuk kita yang setiap hari selalu
berusaha taat kepadaNya, mungkin saat ini ada yang belum bisa merasakan manfaatnya
secara langsung dari amal ibadah kita yang terus kita lakukan secara continue. Namun,
manfaat itu akan dapat kita rasakan setelah kita menyelesaikan proses kehidupan
di dunia ini.
Kita semua telah mengetahui dan memahami bahwa semua
manusia yang ada di dunia adalah sama di mata Sang Maha Pencipta. Yang membedakan
hanyalah tingkat keimanan dan ketaqwaan kpd-Nya. Agar bisa melalui proses
kehidupan ini dengan sempurna, manusia sudah diberi pedoman hidup oleh Sang
Maha Pencipta. Tepat sekali, pedoman itu adalah Al Qur’an. Kitab yang akan
mengantarkan manusia menuju kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Akan
tetapi, kita sebagai manusia, apakah sudah melaui proses kehidupan ini dengan
benar? Berdasarkan spesifikasi kehidupan yang ideal, yang sudah tertulis di
dalam Al Qur’an? Sudahkah kita memahami dengan baik dan berjalan sesuai dengan arahan
yang ada pada pedoman hidup kita?
Penulis sendiri pun tidak yakin sudah melalui proses
kehidupan hingga detik ini sesuai dengan pedoman hidup yang telah Allah SWT
berikan. Kita akui bahwa kita lebih senang untuk membaca novel, membaca akun
media social kita, membaca informasi atau berita yang ada di internet, membaca
jurnal-jurnal ilmiah, atau mungkin temen-temen lebih suka membaca buku-buku
kuliah yang tebalnya hingga 10 cm sampai kening temen-temen berkerut. Lalu,
dimana Al Qur’an kita letakkan? Tidakkah hati kita merasa gelisah jika kita gagal
melalui proses kehidupan yang pendek ini?
Mempelajari Al Qur’an seharusnya dijadikan prioritas yang paling
utama. Namun, globalisasi dan modernisasi telah mengalihkan mata hati kita
untuk mengikuti persaingan hidup yang semakin ketat dan seolah-olah tidak punya
waktu lagi untuk mempelajari Al-Qur’an.
Dikatakan
dalam sebuah nasehat:
Barangsiapa
yang menginginkan pelindung, maka Allah cukup baginya.
Barangsiapa
yang menginginkan teladan, maka Rasulullah cukup baginya.
Barangsiapa
yang menginginkan pedoman hidup, maka al-Qur’an cukup baginya.
Barangsiapa
yang menginginkan peringatan maka kematian cukup baginya.
Dan barangsiapa
tidak cukup dengan semua itu, maka neraka cukup baginya.
Saat ini
wahai kaum muslimin, kita masih mempunyai peluang dan kesempatan, maka sekarang
juga kita harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk taat kepada rabb kita,
untuk melalui proses kehidupan ini berdasar pedoman hidup yang telah Allah SWT berikan.
Waktu ini bagaikan pedang, jika kita tidak mengisinya maka ia akan menikam
kita.
“Tiap-tiap
umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka
tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula
memajukannya.” (Q.S Al-A’raaf: 34)
